ASI

SAHABAT ASI: Inovasi Komunitas yang Terbukti Tekan Stunting di Palangka Raya

Wahidah Sukriani
Penulis
📅 ⏱ 5 menit baca

Palangka Raya — Angka stunting di Kota Palangka Raya masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Dengan angka 27,8% — lebih tinggi dari rata-rata provinsi Kalimantan Tengah yang berada di 26,9% — tantangan ini tidak bisa diselesaikan hanya dari atas meja. Ia harus dijawab dari tingkat komunitas, dari rumah ke rumah, dari ibu ke ibu.

Inilah latar belakang lahirnya program inovatif yang kini mulai menunjukkan hasil nyata di Kelurahan Kereng Bangkirai.


Mengapa ASI Eksklusif dan Stunting Saling Berkaitan?

Sebelum memahami programnya, penting untuk memahami akar masalahnya. Cakupan ASI eksklusif di Kelurahan Kereng Bangkirai hanya mencapai 48,89% — kurang dari separuh bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya.

Padahal, ASI eksklusif adalah garis pertahanan pertama melawan stunting. ASI mengandung nutrisi lengkap, antibodi alami, dan faktor pertumbuhan yang tidak bisa digantikan produk manapun — terutama di 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang sangat menentukan.

“ASI eksklusif adalah investasi terbaik untuk masa depan anak. Namun, masih banyak ibu yang belum mendapatkan informasi dan dukungan yang memadai,” ungkap Bdn. Wahidah Sukriani, SST., M.Keb, selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ini.


Lahirnya SAHABAT ASI: Saat Ibu Menguatkan Ibu

Tim dari Program Studi D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya memilih pendekatan yang berbeda dari program kesehatan konvensional. Alih-alih hanya mengandalkan tenaga kesehatan, mereka membangun kelompok SAHABAT ASI — singkatan dari Sahabat ASI Eksklusif — yang berjalan dari Mei hingga September 2025.

Konsepnya: peer support atau dukungan teman sebaya. Kelompok ini terdiri dari kader Posyandu aktif dan ibu-ibu berpengalaman yang telah berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

“Kami memilih pendekatan peer support karena terbukti lebih efektif. Ibu-ibu lebih nyaman berbagi pengalaman dan bertanya kepada sesama ibu yang memahami kondisi mereka,” jelas Bdn. Wahidah.

Ada kebenaran mendalam di balik pendekatan ini. Seorang ibu yang baru melahirkan tidak hanya butuh informasi — ia butuh diyakinkan bahwa ia tidak sendirian, bahwa yang ia alami juga pernah dialami ibu lain, dan bahwa ada jalan keluarnya.


Apa yang Dipelajari Anggota SAHABAT ASI?

Anggota SAHABAT ASI tidak sekadar dibekali semangat. Mereka mendapat pelatihan komprehensif selama tiga sesi yang mencakup:

  • Anatomi dan fisiologi payudara
  • Manajemen laktasi
  • Teknik menyusui yang benar
  • Cara memerah ASI
  • Teknik penyimpanan ASI perah
  • Keterampilan konseling laktasi

Setiap anggota juga dilengkapi dengan buku saku ASI sebagai media edukasi yang bisa digunakan saat mendampingi ibu-ibu di lapangan. Mereka melakukan kunjungan rumah secara rutin — membantu mengatasi masalah menyusui, memberikan dukungan emosional, dan memotivasi ibu untuk terus memberikan ASI eksklusif.


Program Edukasi untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Selain membentuk dan melatih anggota SAHABAT ASI, program ini juga menjalankan edukasi langsung kepada ibu hamil dan ibu menyusui dalam 2 sesi pertemuan interaktif — menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi praktik menyusui yang benar.

Para peserta sangat antusias. Pertanyaan mengalir, diskusi hidup, dan yang paling penting — para ibu merasa didengar dan dipahami.


Hasilnya: Angka yang Bicara, Cerita yang Menyentuh

Program ini mencatat hasil yang menggembirakan. Pengetahuan anggota SAHABAT ASI meningkat signifikan setelah mengikuti pelatihan. Lebih membanggakan lagi, pengetahuan ibu hamil dan ibu menyusui tentang ASI eksklusif meningkat sebesar 30 poin persentase setelah mengikuti sesi edukasi.

Tapi angka saja tidak cukup menceritakan dampaknya.

“Kami sangat terbantu dengan adanya kelompok SAHABAT ASI ini. Mereka tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga dukungan emosional yang sangat kami butuhkan,” ungkap Ibu Siti (nama samaran), salah satu peserta program yang kini sedang menyusui bayinya.


Didukung Bukti Ilmiah Internasional

Keberhasilan pendekatan peer support ini bukan kebetulan. Berbagai penelitian internasional telah membuktikan efektivitasnya:

Hiito et al. (2024) menyimpulkan bahwa dukungan teman sebaya berbasis komunitas dapat meningkatkan durasi ASI eksklusif, terutama pada bayi usia 3-6 bulan.

Martinez et al. (2020) menemukan bahwa konselor sebaya memberikan efek positif nyata terhadap hasil menyusui di klinik prenatal perkotaan.

Jeon et al. (2025) menunjukkan bahwa ibu yang menerima dukungan teman sebaya memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam praktik menyusui mereka.

Program SAHABAT ASI di Kereng Bangkirai membuktikan bahwa temuan-temuan ilmiah ini bukan hanya berlaku di luar negeri — ia juga bekerja di komunitas kita sendiri.


Dukungan Puskesmas dan Harapan ke Depan

Program ini mendapat dukungan penuh dari Puskesmas Kereng Bangkirai. Bidan Koordinator Puskesmas mengapresiasi inisiatif ini dan menyatakan komitmen untuk terus mendukung keberlangsungan kelompok SAHABAT ASI.

Ke depan, tim pengabdi berharap model SAHABAT ASI dapat direplikasi di kelurahan-kelurahan lain di Kota Palangka Raya. Kelompok ini akan terus diberdayakan dan mendapat pelatihan berkala untuk menjaga kualitas pendampingan.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan kebijakan dan program berkelanjutan untuk kelompok SAHABAT ASI. Monitoring dan evaluasi jangka panjang juga penting untuk memastikan keberlanjutan program ini,” tambah Bdn. Wahidah mewakili tim pengabdi.


Program SAHABAT ASI membuktikan satu hal yang sederhana namun kuat: ketika ibu mendukung ibu, bayi-bayi tumbuh lebih sehat. Dan ketika itu terjadi di cukup banyak rumah, angka stunting pun bisa berubah.


 

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) “Pembentukan Kelompok Masyarakat Peduli Menyusui SAHABAT ASI sebagai Upaya Pencegahan Stunting” dilaksanakan oleh tim Poltekkes Kemenkes Palangka Raya bekerja sama dengan Puskesmas Kereng Bangkirai dan kader Posyandu setempat. Dipublikasikan sebagai bagian dari luaran Program Kemitraan Masyarakat tahun 2025.

Penulis: Wahidah Sukriani, Bidan
Ditinjau: Februari 2026

Wahidah Sukriani

Penulis artikel di Sapa Bidan. Artikel ditulis berdasarkan penelitian terkini dan pengalaman klinis.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Dapatkan tips terbaru langsung di inbox Anda

Bergabung dengan banyak ibu Indonesia yang mendapatkan panduan kehamilan & menyusui setiap minggu.

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x